Normal
0
false
false
false
EN-ID
X-NONE
X-NONE
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:8.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:107%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,sans-serif;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;
mso-font-kerning:1.0pt;
mso-ligatures:standardcontextual;
mso-fareast-language:EN-US;}
JAYAPURA, Suaratanahpapua.Sbs— Tiga buku berseri tentang Thom Beanal dilaunching. Launching sekaligus bedah buku salah satu tokoh Papua dari tanah Amungsa itu dilakukan di aula Paroki Kristus Terang Dunia Waena, Kota Jayapura pada, Kamis (26/2/2026).
Tiga buku berseri tersebut diterbitkan dengan tajuk utama Thom Beanal: Pastor Awam, Kepala Suku dan Bapak Bangsa Papua.
Markus ketua tim kerja penulisan buku tersebut mengatakan, dalam buku itu dituliskan peristiwa penting dalam perjalanan hidup Thom Beanal, baik sebagai orang awam Katolik, seorang kepala suku, maupun sebagai bapak bangsa Papua.
Buku pertama memuat tentang refleksi tentang figur Thom Beanal, kedua tentang kesaksian istri, anak-anak serta keluarga dekatnya dan menggali pemikiran Beanal tentang gereja dan bangsa Papua. Sedangkan seri ketiga memuat kesaksian Torey Negel Amungme-Papua, yang memuat kesaksian dari 47 penulis dari berbagai latar belakang.
“Buku ini disusun untuk mengenang dan mendokumentasikan karya serta perjalanan hidup bapak Thom Beanal, seorang tokoh penting bagi gereja, adat dan bangsa Papua yang berperan sebagai gembala, pemimpin adat, aktivis LSM, advokat HAM, pemimpin bangsa Papua, dan Komisaris PT Freeport Indonesia,” jelas Markus.
Bagian lainnya mengisahkan Thom Beanal sebagai guru, gembala (sebagai pastor awam) di gereja Katolik. Ia juga terlibat mendirikan lembaga adat, khususnya LEMASA (Lembaga Masyarakat Adat Suku Amungme) dan (Dewan Adat Papua DAP).
Kemudian turut mendirikan beberapa lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di lingkungan hidup, hak asasi manusia, maupun politik.
“Puncaknya, ia dipercayakan sebagai pemimpin bangsa Papua, memimpin tim 100 mewakili bangsa Papua bertemu Presiden BJ Habibie pada Februari 1999. Selanjutnya melalui Kongres Papua II, ia terpilih sebagai Wakil Ketua Dewan Presidium Dewan Papua,” jelas Markus.
*****************
Suaratanahpapua.Sbs adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media kami hadir untuk menjadi bagian dari rakyat, juga media yang hadir untuk mengubah sedikit rumitnya persoalan di Tanah Papua. Dukung kami melalui donasi Anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.
*****************
Markus lalu berpesan agar generasi muda untuk membaca buku-buku tersebut, karena banyak kisah dan sejarah yang dikisahkan almarhum dalam perjalanan hidupnya untuk tanah dan bangsa Papua.
“Bagaimana kita bisa mengenalnya secara dekat? Lembaga mana dan tahun berapa ia bekerja, dimana dengan siapa serta sebagai apa? Jawabannya ditemukan dalam tiga buku berseri ini,” tukasnya.













