BeritaDemokrasiDomberaiHAMHukumKampung KosongPengumgsiPolhukam

Tiga Kampung Kosong, Warga Mengungsi ke Lokasi Aman

0
×

Tiga Kampung Kosong, Warga Mengungsi ke Lokasi Aman

Share this article
Tiga Kampung Kosong, Warga Mengungsi ke Lokasi Aman

SORONG, Suaratanahpapua.Sbs — Tiga kampung di kabupaten Tambrauw, yakni kampung Banfoth, Salim, dan Sumbekas, dilaporkan kosong setelah warga mengungsi pasca operasi aparat gabungan TNI-Polri pada 18 Maret 2026.

Kepala kampung Banfoth, Ayub Yekwam, yang juga salah satu korban salah tangkap dan kini menjalani perawatan di Sorong akibat dugaan cedera pada tulang rusuk, mengatakan, warganya meninggalkan kampung karena rasa takut dan tidak aman.

Ayub Yekwam memiliki 39 KK dengan 108 jiwa penduduk kampung Banfoth.

Menurutnya, saat operasi berlangsung, aparat tidak mengedepankan pendekatan persuasif, sehingga 108 jiwa orang telah keluar meninggalkan kampung.

“Aparat turun dari kendaraan langsung lepaskan tembakan ke dalam kampung. Itu bikin masyarakat takut, jadi pergi tinggalkan kampung,” jelasnya kepada Suara Papua, Jumat (3/4/2026).

Suasana kampung tampak hening dan tidak ada orang beraktivitas di sekitar kampung Banfoth, distrik Fef, kabupaten Tambrauw, Papua Barat Daya, Senin (30/3/2026). (Maria Baru – Suara Papua)

Sejak operasi berlangung, kata Ayub, warga mengungsi ke sejumlah wilayah yang dianggap lebih aman, seperti kampung Syubun, Sausapor, hingga kota Sorong.

“Masyarakat merasa tidak aman tinggal di kampung sendiri,” ujarnya.

*****************

Suaratanahpapua.Sbs adalah media yang berbasis di Tanah Papua. Media kami hadir untuk menjadi bagian dari rakyat, juga media yang hadir untuk mengubah sedikit rumitnya persoalan di Tanah Papua. Dukung kami melalui donasi Anda agar kami bisa tetap melayani kepentingan publik.

CLICK HERE!

*****************

Selain itu, Ayub mengaku menemukan sejumlah rumah warga mengalami kerusakan. Pintu dan jendela dibobol secara paksa, bahkan banyak rumah dibiarkan terbuka karena kunci dan pintunya telah rusak.

Pantauan Suara Papua pada Senin (30/3/2026), kondisi kampung Banfoth sunyi. Tak terlihat aktivitas warga, dan tungku-tungku yang biasanya menyala setiap hari tampak dingin, menandakan tiadanya penghuni.

Berdasarkan catatan, kampung Banfoth memiliki 11 rumah dan satu gereja. Sebagian besar rumah dalam kondisi kosong, dengan barang-barang di dalamnya tampak berantakan pasca operasi.

“Pintu dan jendela rusak. Bagaimana kami mau tinggal? Kami orang adat. Barang-barang seperti kampak dan parang juga hilang. Kami cari tempat aman untuk bertahan hidup dulu,” kata Ayub.

Anggota DPRK Tambrauw, Melkianus Yesnath, yang turut mendampingi masyarakat sejak peristiwa tersebut, membenarkan, ketiga kampung itu kini tak berpenghuni.

“Masyarakat Banfoth mengungsi ke Syubun, sementara warga Salim dan Sumbekas ke distrik Yembun,” jelas Melkianus saat jumpa pers, Jumat (3/4/2026).

Salah satu pintu rumah di kampung Banfoth, distrik Fef, Tambrauw, yang dibobol secara paksa hingga rusak, Senin (30/3/2026). (Maria Baru - Suara Papua)
Salah satu pintu rumah di kampung Banfoth, distrik Fef, Tambrauw, yang dibobol secara paksa hingga rusak, Senin (30/3/2026). (Maria Baru – Suara Papua)

Sementara itu, kepala Komnas HAM Perwakilan Papua, Frits Ramandey, mengaku kehadiran aparat di Tambrauw cukup tinggi jumlahnya, sehingga menimbulkan ketakutan dan trauma di kalangan masyarakat.

Frits mengatakan, pihaknya telah menerima sejumlah aduan terkait kehadiran aparat di dalam kampung yang membuat warga merasa tak aman. Bahkan, masyarakat meminta agar pos aparat di Bamusbama dipindahkan jauh dari kawasan permukiman.

“Komnas HAM juga menerima laporan terkait kerusakan rumah serta hilangnya sejumlah barang milik warga. Kami mencatat sedikitnya 10 orang korban dalam peristiwa ini,” ungkapnya. []