JAYAPURA, Suaratanahpapua.Sbs — Penyerangan udara yang terjadi di distrik Gearek, kabupaten Nduga, Papua Pegunungan, pada 10 Desember 2025 dan berlanjut tiga hari berikut, dilaporkan merenggut nyawa. Arestina Giban, anak berusia 7 tahun, tewas. Jasadnya belum di tangan keluarga korban.
Dalam laporan tertulis berdasarkan hasil investigasi Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua (YKKMP) bersama tim kemanusiaan selama 9 hari di lapangan menunjukkan fakta mengerikan. Selain satu korban jiwa, ratusan warga sipil mengungsi, tinggalkan rumah dan mencari tempat aman hingga ke hutan dan Kenyam, ibu kota kabupaten Nduga.
Tim kemanusiaan dipimpin Theo Hesegem, direktur eksekutif YKKMP, memperoleh laporan awal penyerangan bermula pada 10 Desember 2025, ketika pemantauan aparat keamanan menggunakan 3 helikopter di langit Gearek tanpa sebab. Saat itu masyarakat kebingungan dan bertanya-tanya, bahkan hingga rasa takut menyelimuti mereka.
Aksi penyerangan berlanjut keesokan harinya, 11 Desember 2025. Tiga helikopter dan 3 drone 3 berkeliling di udara Geareak. Satu helikopter mendarat dan menurunkan pasukan bersenjata di kampung Weneworasosa.
Sebelum itu, salah satu helikopter melakukan penembakan dari udara ke pinggiran rumah warga sipil. Bersamaan melemparkan mortir sebanyak 3 kali.
Melihat kejadian itu, masyarakat menyelamatkan diri dengan berlari ke arah hutan kali Mbunu. Mereka berlindung di hutan selama sehari. Dari sana mereka berpindah ke Enggolok. Setelah menginap di sana, mereka ke terminal Wendama untuk menuju ke Kenyam.
Mereka berjalan kaki ke kampung Nggeni. Saat itu mereka menjumpai rombongan kepala distrik bersama para mahasiswa menggunakan 6 mobil. Selanjutnya bersama-sama ke Kenyam, Minggu (14/12/2025).
Setibanya, para pengungsi ditempatkan di gedung SD Inpres Keneyam. Mereka diberikan 3 ruang kelas untuk tinggal di sana.
Jumlah pengungsi seluruhnya 580 jiwa. Lokasi pengungsiannya terpisah di beberapa titik.
• Yang mengungsi ke Kenyam 71 orang. Lainnya di hutan dan kampung tetangga. Diantaranya kali Mbunu 2 tempat, sebanyak 61 orang. Seluruhnya belum kembali.
• Lokasi lain di Sanelak sebanyak 49 orang. Mereka telah kembali 14 Desember 2025.
• Lokasi pengungsi di distrik Pasir Putih sebanyak 13 orang, masih belum kembali.
• Di Enggolok ada 1 orang yang mengungsi dan sudah kembali ke rumah.
• Sedangkan 14 orang mengungsi ke kampung Tribit. Mereka belum pulang ke rumah.
• Bahkan 315 orang lainnya mengungsi ke wilayah kabupaten Asmat. Tepat di kampung Yensuku. Mereka sudah kembali.
• Sebanyak 17 warga Gearek yang mengungsi ke Kenyam belum kembali. Begitupun 2 orang yang mengungs ke Nggebem tepatnya di Jemaat Bethel.
Dari data lapangan, serangan dari udara dilakukan ke sembarang arah. Tak ada perlawanan atau balasan dari warga sipil.
Masyarakat kampung Weneworasosa saat itu bingung, tak mengerti tentang apa yang sedang terjadi. Begitupun dengan kampung-kampung tetangga lainnya.
Karena ramainya bunyi helikopter disertai tembakan dan ledakan mortir, masyarakat setempat melarikan diri ke hutan sekitar. Dengan kondisi terpaksa. Tanpa membawa apapun. Tanpa membalas menggunakan apapun. Selamatkan diri adalah tujuan utama saat itu.
Setelah dilakukan operasi selama sehari semalam dan berlanjut keesokan hari pada pukul 07.30 WIT, warga keluar dari kampung Weneworasosa. Keesokan harinya tak bisa pulang hingga tim kemanusiaan tiba di distrik Gearek untuk melakukan investigasi, pemantauan dan pemasangan baliho.
Dalam peristiwa itu, Arestina Giban, seorang anak perempuan berusia 7 tahun tertembak. Ia kena tembakan dari atas helikopter saat mamanya, Wina Kerebea, membawa lari ke hutan. Arestina Giban tertembak di bagian kepala. Peluru kena di otak belakang tembus depan. Kepala dan wajahnya hancur. Melihat anaknya tertembak dan jatuh dari bahunya, mama Wina Kerebea berusaha menyelamatkan dengan bersembunyi di belakang kuburan tetenya.
Setelah sembunyikan anak pertamanya, ia tak tahan untuk pergi mengambil jasad anaknya yang tertembak. Saat hendak melihat jasad anak yang terlentang, ia terkena serpihan ledakan mortir yang dijatuhkan dari helikopter saat itu di dekatnya.
Serpihan mortir tertancap di paha belakang sebelah kanan. Karena terkena tembakan, ia hanya membaringkan tubuhnya di jalan. Sambil menutup mata dan menutup tubuhnya menggunakan kain dan melarikan diri dan bersembunyi tak jauh dari rumahnya.
Saat itu pasukan yang diturunkan melakukan operasi dan menghancurkan rumah-rumah warga sipil. Salah satu aparat yang melewati jasad menendangnya hingga masuk ke parit. Itu terjadi saat mama dan anak pertamanya melihat dari persembunyiannya.
Akibat tembakan sangat tak terkontrol serta pantauan drone yang masif, mereka melarikan diri ke arah hutan dan menjauh dari pemukiman.
Jasad Dihilangkan Paksa
Sehari setelah peristiwa itu terjadi, beberapa orang melakukan pencarian korban. Tetapi tak ditemukan di tempat kejadian perkara. Selama tiga hari mereka telah melakukan pencarian korban, tetapi tidak berhasil.
Saat tim kemanusiaan melakukan investigasi juga tak menemukan jasad anak tersebut. Tim sempat menemukan indikasi penguburan jasad di lokasi sekitar karena adanya bau amis. Tetapi tim ragu bongkar tempat itu karena dugaan dipasang ranjau bersamaan jasad Arestina Giban.
“Tidak berhasil juga, sehingga tim kemanusiaan keluar meninggalkan TKP,” kata Yefta Lengka, aktivis kemanusiaan yang juga anggota tim kemanusiaan Gearek.
Sementara itu, Wina Kerebea, mama korban masih dalam proses pemulihan dari pengungsian. Rumahnya sudah rusak parah.
Korban lainnya, Elius Baye (25). Kepala keluarga yang memiliki 1 anak itu meninggal dunia di pengungsian.
Setelah dua hari mengungsi, Elius Baye meninggal di pengungsian kampung Yensuku, distrik Tomor, kabupaten Asmat.
Sebelumnya ia sakit, tetapi karena adanya penyerangan, sempat melarikan diri bersama keluarga untuk menyelamatkan keluarganya. Sehari di pengungsian, Elius Baye menghembuskan nafas terakhir.
Jatuhnya dua warga sipil itu dibenarkan tiga anggota DPRK Nduga yang menyertai tim kemanusiaan, yakni Ans Serera, S.Sos, Leri Gwijangge, SAP, MM, dan Matius Kerebea.
Diungkapkan, dari data lapangan dan pengakuan semua pihak di sana, dua orang meninggal akibat penyerangan tersebut, yakni Aristina Giban dan Elius Baye.
Anggota DPRK Nduga juga mengaku hingga kini jenazah anak tersebut belum diserahkan ke pihak keluarga. Oleh karenanya, aparat keamanan diminta menjelaskan terkait hal itu. []













