Dogiyai BahagiaPendidikanSeni & Budaya

Pemkab Dogiyai Kirim 20 Pelajar ke NTT Tampil di IPACS 2025 Diikuti 17 Negara

0
×

Pemkab Dogiyai Kirim 20 Pelajar ke NTT Tampil di IPACS 2025 Diikuti 17 Negara

Share this article
Pemkab Dogiyai Kirim 20 Pelajar ke NTT Tampil di IPACS 2025 Diikuti 17 Negara

DOGIYAI, Suaratanahpapua.Sbs — Bupati Dogiyai Yudas Tebai, S.Pd, M.Si diwakili Asisten II Setda Natalis Agapa, SE, M.Si, melepas 20 pelajar SMA/SMK beserta lima pelatih/pendamping mengikuti festival budaya tingkat internasional “Indonesia-Pacific Cultural Synergy” (IPACS) 2025 di Kupang, provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (3/11/2025).

Para pelajar Dogiyai mewakili provinsi Papua Tengah menuju kota Kupang mengikuti event IPACS 2025 yang melibatkan peserta dari semua kabupaten di NTT dan 17 tim manca negara. Kegiatannya diselenggarakan selama tiga hari, 11-13 November 2025.

Kontingen Dogiyai sebelumnya meraih juara umum festival budaya antarpelajar tingkat provinsi Papua Tengah yang diikuti 8 kabupaten di Papua Tengah.

“Kita bangga karena anak-anak Dogiyai bisa mewakili provinsi Papua Tengah untuk mengikuti festival budaya tingkat internasional di Kupang,” kata Natalis Agapa dalam sambutannya saat acara pelepasan peserta di halaman kantor bupati Dogiyai.

Atas nama pemerintah daerah, Natalis mengapresiasi pimpinan bersama staf Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) kabupaten Dogiyai yang telah mempersiapkan peserta mengikuti festival budaya tingkat Papua Tengah hingga meraih juara dan dikirim mewakili Papua Tengah menuju festival budaya tingkat dunia.

Natalis Agapa didampingi plt kepala dinas Dikpora kabupaten Dogiyai David Goo, S.Pd dan sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD) mengatakan, budaya Papua umumnya dan khusunya suku Mee termasuk Dogiyai harus dihidupkan generasi muda dengan berbagai cara resmi maupun tak resmi agar tetap eksis dalam dinamika kehidupan masyarakat.

“Budaya kita jangan hilang. Kalian inilah penerus budaya kita. Kita bangga sekali, kalian bisa hadir untuk tunjukkan budaya kita di tingkat intenasional. Semua ini terjadi berkat campur tangan Tuhan,” kata Agapa.

Selama ini orang lain tahu budaya mengenakan pakaian adat yakni koteka, moge serta noken dan cara menganyam, juga ragam tarian adat hanya melalui media massa saja. Karena itu, Natalis Agapa yakin dengan tampil mengenakan atribut budaya suku Mee di ajang IPACS, orang luar akan tahu asal usul dan pemiliknya.

“Orang luar akan tahu dan melihat langsung koteka, moge, noken dan tarian adat suku Mee pada saat pentas. Kita harus bangga Dogiyai hadir di festival bertaraf internasional itu untuk bisa memperkenalkan sekaligus mengangkat nama baik Dogiyai,” ujarnya.

Untuk itu, Pemkab Dogiyai menurut Agapa, mendukung sekaligus mendoakan para peserta Dogiyai perwakilan provinsi Papua Tengah tampil maksimal di Kupang. Sekaligus berharap para peserta dimudahkan dalam perjalanan dan menyajikan budaya asli selama festival berlangsung, kemudian pulang ke Dogiyai dengan selamat.

“Tuhan dan alam Dogiyai mendukung kehadiran kita dalam festival tingkat dunia di Kupang. Dengan memanjatkan puji syukur kepada Tuhan, saya atas nama pemerintah kabupaten Dogiyai melepaskan 20 peserta dan lima pendamping untuk mengikuti festival budaya tingkat internasional,” kata Natalis.

Sementara itu, David Goo menjelaskan, 20 pelajar peserta festival dunia berasal dari SMA dan SMK yang ada di kabupaten Dogiyai. Mereka diberangkat bersama 4 orang pendamping dan 1 orang perwakilan Dinas Dikpora Dogiyai.

“Sebelumnya peserta ini mengikuti dan meraih juara umum festival budaya tingkat Papua Tengah yang diikuti delapan kabupaten. Setelah itu peserta juara umum dipercayakan mewakili Papua Tengah untuk mengikuti festival budaya tingkat internasional di NTT,” jelasnya.

David menyatakan, pihaknya memberikan dukungan penuh sejak awal mengikuti festival budaya di tingkat provinsi, begitupun sebelum dan selama festival IPACS di Kupang.

“Pengembangan bakat peserta didik dan pelestarian budaya merupakan bagian tak terpisahkan dari perhatian pemerintah daerah. Kami sangat mendukung penuh, apalagi ini membawa nama baik daerah juga.”

Diakuinya, para duta seni dari kabupaten Dogiyai telah menjalani proses pembinaan intensif selama sebulan lebih. Mereka dipersiapkan tim instruktur dan guru pendamping agar anak-anak tampil percaya diri dan elegan.

Kata David Goo, pada festival tingkat internasional, peserta dari Dogiyai akan menyuguhkan seni tari dari 8 kabupaten dengan durasi waktu 15 menit. Seni tari itu digabungkan menjadi satu sajian utuh.

“Gerakan tarinya dipadukan sesuai gerakan tari dari masing-masing kabupaten yang ada di provinsi Papua Tengah. Sekitara dua menit akan bawakan tari tarian dari kabupaten Dogiyai, kemudian lanjutkan lagi dengan tarian dari tujuh kabupaten lain. Tarian yang akan dipentaskan itu campuran mewakili seni tari dari delapan kabupaten. Anak-anak sudah siap dengan matang untuk dipentaskan di hadapan pubik di NTT dan dunia,” tutur David.

Menurut Benediktus Goo, S.Pd, koordinator tim yang juga kepala bidang SD, SMP dan SMA/SMK Dinas Dikpora Dogiyai, menyatakan, bukan sekadar kompetisi budaya, tetapi kegiatan yang diikuti 20 pelajar tersebut merupakan sarana pembentukan karakter generasi muda Papua.

“Para peserta dapat tampil membanggakan dan membawa nama baik provinsi Papua Tengah. Harapannya, mereka bisa menjadi duta budaya di tingkat internasional,” kata Bendy.

Sebelumnya, pemenang festival budaya tingkat Papua Tengah akan dikirim mengikuti event tingkat nasional yang direncanakan di Jakarta, tetapi batal, kemudian dialihkan ke Yogyakarta, itupun batal juga. Keputusan Pemprov Papua Tengah melalui Dinas Pendidikan, memastikan, kontingen Dogiyai mengikuti IPACS 2025 di Kupang.

Kegiatan budaya bertaraf internasional bertajuk “Celebrating shared cultures and community wisdom” diselenggarakan Kementerian Kebudayaan RI dengan dukungan penuh Pemkot Kupang dan Pemprov NTT. []